Kamis, 19 Mei 2016

DI BALIK KETERBATASAN MANUSIA.

Manakalanya kita mengeluh akan kemampuan yang kita miliki, seolah-olah semua itu adalah kelemahan yang kita benci. Sesuatu yang kita punya hari ini, kenikmatan yang diberikan semua itu merupakan kodrat penciptaan. Manusia mengedepankan suatu logika yang nyata, hidup, riel dan mengelahkan akan adanya hari kehidupan kelak, melakukan sesuatu dan berfikir tiada yang melihat.Membabi buta  akan kehidupannya sendiri. Dasar dari penciptaan sesempurna manusia, tiada tujuan bahwasanya untuk lebih kenal dari sang maha pencipta. Manusia diberikan kehendak untuk melakukan apapun yang ia mau, manusia diberikan wewenang antara mengerti atau tidak, yaitu diantara jalur tengah-tengah tersebut, agar manusia berupaya berfikir atas apa dirinya ada.(tuhan memberikan keadilannya atas itu)

Meliputi itu semua yang maha pencipta melimpahkan perwujudan manusia sesempurna agar bisa mengenal akan adanya tuhan YME, melalui penciptaan yang tidak melebih-lebihkan ataupun kurang daripadanya (perwujudan manusia,kestabilan) agar manusia diberikan kehendak ataupun pilihan untuk memilih dan berupaya tau akan penciptaan dirinya. Analogikanya manusia di berikan indra pada dirinya, yang sudah cukup dan mencukupkan seperti indra penglihatan, pendengaran, peraba, perasa & penciuman ,dan masih banyak sistem yang sangat komplek pada diri manusia yang tidak dapat saya sebutkan secara rinci. Intermezo, jikalau manusia diberikan ketangguhan ataupun kekuatan melebihi itu semua seperti halnya bisa (mengetahui prasaan seseorang, bisa terbang melintasi langit) dan masih banyak lagi kemampuan yang mungkin di berikan tuhan tetapi tidak diberikan kepada manusia. itu semua sebagai contoh kelebihan indra jikalau manusia memiliki itu semua. Manusia semakin sulit mengerti akan tuhan. si manusia itu berkata, saya bisa apapun yang saya mau, jikalau ada tuhan saya akan menemukannya. (Naudzubillahhimindalik).

Seperti halnya jikalau manusia terbatas oleh indra semakin manusia mengetahui akan adanya tuhan, seperti halnya indra penghilatan (mata). ketika hamba tidak di anugrahkan untuk melihat. itulah wujud sesungguhnya yang tampak, ketika ia tidak di anugrahkan indra peraba itulah bentuk sesungguhnya yang tampak, ketika ia tidak di berikan indra perasa itulah wujud sesungguh ciptaan. Ketika tuhan melenyapkan semua indra. nampaklah sesungguhnya nan kekal abadi. Semua terungkap setelah tibanya kematian. Dan tinggagallah ruh nan suci mendiami alam lain.

Dari semua pemaparan diatas bahwasanya dapat disimpulkan dari keterbatasan manusia merupakan kesempurnaan yang cukup bagi manusia (anugrah) dan keseimbangan/kestabilan yang di berikan oleh tuhan kepada manusia untuk memilih jalannya dan dibekalinya pedoman berupa kitab-kitab untuk jalan tuntunan  mengenal tuhan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar